Penulis: Putut Rismawan

Hanya sekedar manusia biasa yang tak luput dari rasa lapar dan dahaga!! Terlahir sebagai seorang lelaki Jawa tulen asli peranakan Nganjuk, sebuah Kota kecil yang terletak di Jawa Timur yang nggak begitu nge-hits, namun di huni oleh orang-orang yang ramah dan sumringah..

Menyulap Mie Goreng Menjadi Mie Rebus (Kuah)

Bagi sebagian orang, mie instan adalah penyelamat perut ketika lapar yang bisa diandalkan disaat tidak ada lagi makanan yang tersisa di dapur. Dan menurut pengalaman saya, saat-saat paling rawan perut dilanda kelaparan yang lumayan merepotkan adalah disaat tengah malam.

Sebagai orang yang punya kebiasaan tidur diatas jam 12 malam, saya sering mengalami hal itu. Keadaan akan bertambah sial jika mendapati kenyataan tidak ada lagi makanan yang tersisa di dapur saat malam hari kecuali makanan yang sudah basi.

Tapi untunglah, keluarga saya selalu menyediakan stok mie instan dalam jumlah yang cukup banyak untuk semua penghuni di rumah. Walaupun sebenarnya saya lah yang lebih banyak menghabiskan jatahnya daripada yang lain. Heuheuheu

Terus terang, kadang-kadang saya merasa bosan juga kalau hampir setiap malam harus menyantap mie instan terus-terusan. Jika sudah begitu, biasanya yang saya lakukan adalah mengakalinya dengan cara “memodifikasi” ala kadarnya. Misalnya dengan cara menambahkan telur, cabe rawit, sayur-sayuran, atau apapun yang sekiranya bisa menggugah selera. Dengan begitu, maka selera makan saya akan kembali beringas.

Oh ya, kadang saya juga sering mengalami saat dimana saya mendapati stok mie instan yang tersisa di rumah ternyata hanya tinggal mie goreng saja, padahal saya pengennya makan mie rebus yang ada kuahnya. Nah, repot kan ya?

Kalau buat saya sih gampang. Karena saya bisa “menyulapnya” menjadi mie rebus dalam waktu sekejap. Emang bisa? Bisa dong. Saya sudah pernah dan bahkan sering melakukannya. Tapi kalau gak tahu caranya, rasanya bakalan jadi hambar.

Saya hanya perlu menyiapkan bahan tambahan berupa bumbu penyedap rasa dan kecap.

Loh, bukannya di dalam mie instan itu sudah ada bumbunya lengkap ya??

Iya memang, tapi kalau hanya mengandalkan paket bumbu yang tersedia didalam bungkusnya itu, saya jamin rasanya nanti bakalan jadi hambar sehambar-hambarnya.

Kenapa?

Ya karena bumbu mie goreng dengan bumbu mie rebus secara komposisi itu berbeda. Maka rasa yang dihasilkannya pun sudah pasti beda. Bumbu mie rebus secara khusus dibuat dengan rasa asin yang lebih kuat di lidah, sehingga tidak hambar saat dilarutkan bersama kuahnya. Kalau bumbu mie goreng justru sebaliknya.

Itulah kenapa saya menyiapkan bahan tambahan berupa bumbu penyedap rasa dan kecap. Bumbu penyedap rasa tambahan yang saya maksud disini itu ya sejenis masako atau royco. Dan lebih bagusnya lagi jika di tambahin telur.

Caranya mie dimasak seperti biasa (mie merk apa saja bebas). Lalu air rebusan mie-nya jangan dibuang. Jadikan itu sebagai kuahnya. Sebisa mungkin, kuahnya jangan terlalu sedikit dan juga jangan terlalu banyak. Ya dikira-kira saja secukupnya.

Lalu setelah bumbu di dalam bungkusnya sudah dicampurkan semua ke dalam mie, tambahkan sedikit bumbu penyedap rasa (masako atau royco) secukupnya. Jangan terlalu banyak. Supaya gak ke-asinan.

Setelah itu jangan lupa tambahkan sedikit kecap juga. Sekalipun di dalam paket bumbu mie goreng sudah tersedia kecap dan saos, tambahan sedikit kecap itu penting untuk menambah sedikit rasa manis, supaya nanti hasilnya menjadi asin manis dan maknyus-able.

Nah, kalau mau lebih istimewa lagi rasanya, silahkan tambahkan telur, lalu aduk secara merata ke dalam mie (saat dimasak). Karena menurut ke sok tahu-an saya, selain menambah citarasa mie, luberan telur ke dalam mie juga ikut membantu merekatkan bumbunya, sehingga rasanya benar-benar melekat kuat di lidah dan tidak hambar.

Dan mie goreng pun kini telah menjelma menjadi mie rebus

26991922_845559965643891_8091557647855642033_n

Iklan

Tips Wangi ala Penari Striptis

Oke, saya paham. Mungkin judulnya memang agak nganu. Jadi lebih baik kita fokus saja ke tips sederhana yang ingin saya share kepada anda yang punya masalah dengan bau badan dan ingin tampil harum mewangi sepanjang hari.

Berawal dari sebuah kicauan kontroversial di twitter tentang parfum, dari salah seorang selebtweet entah siapa saya gak kenal, yang intinya menghina orang yang menggunakan parfum murahan, timeline twitter saya yang biasanya penuh dengan isu-isu politik, agama, dan pelakor, mendadak jadi banyak yang pada ngomongin parfum.

Saya senang karena pada akhirnya tweet kontroversial semacam itu tidak hanya di respon secara sinis, tapi banyak juga yang meresponnya dengan berbagi tips tentang bagaimana cara memakai parfum yang benar supaya aromanya tetap awet dan tahan lama tanpa harus menyemprotkannya secara berlebihan.

Secara kebetulan, sore tadi saya menemukan tips menarik dari salah seorang pengguna twitter yang tiba-tiba nyasar di timeline saya. Tips tersebut sekaligus menjawab sedikit rasa penasaran saya selama ini setiap kali menemukan orang dengan aroma parfum yang begitu membekas di hidung dan awet banget dalam jangka waktu yang cukup lama. Sampai terkadang saya sempat berpikir, “itu orang mandi pakai parfum kali ya?”

Dan ternyata ini dia rahasianya.

26167341_834546506745237_5504315547094287267_n

26166815_834546893411865_6150122700573529257_n

Dan yang sudah membuktikannya!!

26167287_834548790078342_8771238453482977746_n

Apakah tips itu cocok untuk laki-laki atau tidak? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, biasanya laki-laki (termasuk saya) itu paling males kalau harus pakai lotion-lotionan. Tapi buat yang suka tampil wangi, saya rasa gak ada salahnya juga dicoba. Lumayan tho buat pergi ke kondangan?

Memang sih, tidak semua orang suka pakai parfum. Sebagian orang malah sama sekali gak peduli dengan bau badan. Lalu ada juga orang yang justru merasa pusing kalau mencium bau wewangian.

Saya sendiri bukan seorang parfum addict, tapi saya selalu berusaha untuk menghargai tubuh saya sendiri dengan sedikit menyemprotkan parfum jika sedang berada di luar rumah atau sedang berada di sebuah acara. Ya minimal untuk mencegah supaya gak bau badan. Karena saya percaya, bahwa orang lain yang berada disekitar kita juga punya hak untuk menghirup udara yang segar.

After Civilization

Tiga hari yang lalu, salah seorang teman tiba-tiba menghubungi saya, dan kemudian memberikan sebuah kepingan CD kepada saya. Dia bilang CD itu adalah album kompilasi yang berisi band-band metal indie Indonesia. Dan band kami (saya dan teman-teman) termasuk salah satu yang terlibat didalamnya.

WOW. Saya kaget!! Gimana ceritanya band kami bisa masuk album kompilasi?!

Lalu teman saya menjelaskan, dan setelah itu saya baru ingat, kalau dua tahun yang lalu, saya dan teman-teman pernah mendapatkan tawaran dari seorang teman yang tinggal di Indramayu, untuk terlibat didalam project album kompilasi bertajuk “AFTER CIVILIZATION”. Sebuah project album kompilasi garapan label “Antagonis Production”, yang melibatkan beberapa band metal Indonesia dari berbagai sub-genre. Kemudian kami diminta untuk mengirimkan profil band beserta demo lagu berformat CD.

(lebih…)