Bulan: Juni 2017

Sepeda Tua Kenangan Masa Kecil

Di rumah saya ada sebuah ruangan yang khusus digunakan untuk menyimpan barang-barang yang sudah nggak terpakai lagi, alias barang rongsokan. Ya semacam gudang gitu lah. Dan biasanya kalau ruangan itu sudah agak penuh dengan barang-barang yang nggak terpakai, maka keluarga saya pun dengan penuh semangat akan mulai memilah-milah barang-barang yang sekiranya masih bernilai ekonomis,  lalu menjualnya ke tukang rongsokan. Biasanya yang paling rajin melakukan hal itu adalah Emak saya.

Salah satu barang rongsokan (kalau boleh dibilang begitu) yang sampai detik ini masih aman dari kesewenang-wenangan Emak saya adalah sepeda onthel (gowes) merk Phoenix warna biru. Sepeda tertua yang pernah dimiliki keluarga saya yang usianya mungkin hampir sepantaran dengan usia saya.

IMG_20170612_133716

Saya sendiri sampai sekarang nggak tau pasti kenapa sepeda itu bisa selamat dari tangan dingin Emak saya. Padahal kalau dipikir-pikir, jika dibandingkan dengan barang-barang rongsokan lain yang ada diruangan, saya yakin si sepeda phoenix itu masih bernilai jual lumayan tinggi.

Pikiran saya lalu memaksa ingatan saya menerawang jauh kembali mengenang masa kecil saya dulu. Masa ketika sepeda phoenix warna biru itu sedang berada pada puncak masa kejayaannya. Masa Keemasan! Masih segar bugar, kuat, dan tangkas. Kira-kira di awal tahun 90-an. Tahun dimana saya masih duduk dibangku Taman Kanak Kanak. Entah kapan tepatnya Bapak saya dulu membeli sepeda itu. Yang saya ingat, sepeda itu sudah ada ketika saya umur 5 tahun.

Saya masih ingat. Sepeda itu lah yang setiap sore selalu dipakai bapak untuk mengajak saya jalan-jalan, melihat keramaian kota, mampir di alun-alun, lalu berakhir di stasiun hanya untuk melihat kereta api melintas. Saya juga masih ingat, dengan sepeda itu pula lah Bapak selalu mengajak saya menonton Wayang Kulit dan Kuda Lumping yang waktu itu menjadi kegemaran saya. Dan yang terakhir, sepeda itu pula lah yang setiap hari selalu setia mengantarkan Bapak saya menjemput rejeki untuk istri dan anak-anaknya.

Dengan kata lain, sepeda phoenix itu lah satu-satunya alat transportasi andalan keluarga saya waktu itu. Karena saat itu, sepeda motor masih menjadi barang yang mewah bagi kami sekeluarga. Hal itu mungkin bisa dimaklumi, mengingat di tahun-tahun segitu, di kota tempat tinggal saya dulu masih belum banyak orang yang mampu membeli sepeda motor. Mungkin hanya orang-orang tertentu yang sanggup membelinya. Alhasil, jalanan di tempat tinggal saya ketika itu lebih banyak didominasi oleh pengendara sepeda onthel.

Bapak saya masih setia menggunakan sepeda phoenix itu untuk berangkat dan pulang kerja sampai kira-kira tahun 2007. Kenapa?? Ya karena disaat itu lah untuk yang pertama kalinya keluarga saya membeli sepeda motor. Lalu sudah bisa di tebak, si phoenix pun akhirnya terpaksa harus di pensiunkan.

Kalau melihat masa bakti dan pengabdiannya dari kurun waktu yang hampir 20 tahun, terhitung dari tahun 90-an awal sampai tahun 2007 (berarti kurang lebih 17 tahun), maka bisa dibilang, sepeda phoenix yang sekarang sudah menjadi barang “rongsokan” dan terlihat usang itu telah berjasa banyak bagi kehidupan keluarga saya. Jadi kalau boleh saya menduga, barangkali karena alasan itu lah, keluarga saya sampai detik ini tidak pernah berusaha “menyingkirkan” sepeda itu dan menjualnya ke tukang rongsokan sebagaimana nasib barang-barang rongsokan lain yang ada di rumah saya.

Iklan