Kembali Menyapa Buku

Sudah lama sekali rasanya saya tidak bersentuhan dan bercengkrama dengan buku. Kalau tidak salah ingat, terakhir kali saya membeli buku (dan tentu saja membacanya) kira-kira tahun 2011. Setelah itu, saya nyaris tak pernah lagi menyambangi toko buku. Entah kenapa, setelah berhasil hengkang dari kampus di tahun 2012, ketertarikan dan minat saya terhadap buku tiba-tiba lenyap begitu saja. Saya tidak pernah lagi merasakan nikmatnya membaca dan “melahap” buku seperti saat saya masih disibukkan oleh tugas-tugas kampus yang bikin kepala serasa mau meledak itu.

Hingga di suatu hari yang cerah dan penuh gairah, kira-kira sekitar seminggu yang lalu, saya melihat papan baliho di depan Gedung Juang 45 Nganjuk, yang bertuliskan Bazar Buku Murah 2016 (mulai tanggal 20-28 April 2016), sebagai salah satu rangkaian acara untuk memperingati Hari Jadi kota kelahiran saya, Nganjuk, yang kebetulan tahun ini telah genap berusia 1079. Horee!! πŸ˜€

Sebagai seorang pemuda yang sok ngintelek namun tetap andhap ashor, tentu saja saya cukup antusias. Jarang-jarang lho di Nganjuk ada Bazar Buku, apalagi ada embel-embelnya Murah. Kayaknya harus nunggu Nganjuk Ulang Tahun dulu deh baru ada Bazar Buku. Itu pun juga kadang ada, kadang juga enggak. Kalaupun ada juga sepi peminatnya. Mungkin karena budaya baca orang Nganjuk itu masih relatif rendah kali ya, sehingga event-event seperti Bazar Buku itu kurang begitu diminati dan masih kalah pamor dibandingkan dengan Konser Dangdut New Palapa.

Namanya juga bukan Kota Pelajar, toko buku di Nganjuk saja hanya ada dua. Itu pun juga terbilang masih baru, kira-kira sekitar dua tahun yang lalu. Bahkan saya perhatikan, pengunjungnya juga nggak terlalu rame, alias cenderung sepi. Kalau mau hunting buku di toko buku ternama seperti Gramedia, mau nggak mau ya harus “nyebrang” ke Kota Kediri sana, yang jaraknya sekitar 30 km-an lebih. Ribet ya?

Akhirnya saya menyempatkan diri juga datang ke Bazar Buku kemarin tepat di hari terakhir tanggal 28 April. Dan ketika sampai di lokasi, terus terang saya agak kaget, karena ternyata Bazar Bukunya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, tidak terlalu “wah”, justru sebaliknya, terkesan begitu bersahaja, simpel dan ala kadarnya. Bahkan saya sempat mengira kalau saya salah tempat. Soalnya dari segi tata ruang dan stan-stan yang tersedia, ditambah lagi penerangannya yang cukup minim, sama sekali tidak mengesankan kalau di tempat itu sedang ada Bazar Buku. Tidak seperti Bazar-bazar buku pada umumnya yang sudah sering saya kunjungi.

img_20160428_203435.jpg

img_20160428_203516.jpg

Kini saya paham alasannya kenapa Bazar Buku tersebut dikasih embel-embel kata “Murah” dibelakangnya. HAHAHA!! Dan buku-buku yang dijual pun ternyata memang kebanyakan stok lama, walaupun masih ada segelnya. Tapi saya nggak kecewa. Lagipula tujuan saya datang ke Bazar Buku itu kan mau hunting buku, bukan mau menginspeksi tata ruangnya. Terserah lah mau di desain seperti apa ruangannya, yang penting yang dijual tetap buku, bukan janji palsu. #halah

Dan seperti biasa, saya selalu merasa kebingungan ketika berada di antara banyak buku. Bingung mau beli buku yang seperti apa. Kalau saya menuruti semua yang saya pengen, jelas dompet saya bakalan jebol sejebol jebolnya. Pulang-pulang mungkin saya bisa bawa dua kardus berisi buku.

Tapi kebetulan saya lagi pengen beli novel. Yah, sekedar untuk bacaan ringan di waktu senggang. Lagipula, seumur hidup saya, saya sama sekali belum pernah yang namanya beli novel. Kebanyakan buku yang saya punya adalah buku-buku wacana dan buku-buku kajian teoritis. Dan saat ini saya hanya kepengen baca buku yang ringan-ringan saja. Karena hidup ini sudah cukup berat, saya nggak mau menambahnya lagi dengan membaca buku yang berat-berat dan menguras pikiran. HAHAHA!!

Setelah saya ubek-ubek hampir setengah jam di hampir semua stan yang ada, akhirnya saya menemukan sebuah novel yang (menurut saya) kelihatannya cukup menarik. Sebuah novel karya Mahfud Ikhwan. Bukunya cukup tebal dan berukuran jumbo. Lumayan sih buat nempeleng orang sampe mencret.

img_20160429_065953.jpg

Saya tertarik dengan novel itu karena menurut saya sangat bercita rasa Indonesia, dan isu yang diangkat dalam buku itu juga nggak jauh-jauh amat dari problematika hidup masyarakat Indonesia. Setidaknya itu lah ringkasan isi yang saya baca di Blurp atau sinopsis bukunya, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk memungutnya dan membawanya pulang. Apalagi ada embel-embelnya Based On True Story, semakin bikin saya penasaran. Ah, mudah-mudahan isinya memang beneran bagus ya. Biar saya nggak kapok beli novel lagi πŸ˜€

Ilustrasi: tokobukuonline.web.id

Iklan

2 pemikiran pada “Kembali Menyapa Buku

Jangan Lupa Meninggalkan Jejak ya, Bro??

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s