Haruskah Se-Komersil itu?

Hari sabtu tanggal 2 April kemarin merupakan yang kesekian kalinya saya berkunjung ke Kota Surabaya dalam waktu beberapa bulan terakhir ini. Saking seringnya, saya sampai lupa. Maklum, ingatan saya ini hanya bisa berfungsi dengan tajam khusus menyangkut dua perkara, yaitu utang piutang, dan juga tentu saja: W.A.N.I.T.A!!

Bukan. Saya ke Surabaya bukan untuk nagih hutang (apalagi urusan wanita), melainkan ada beberapa urusan yang sangat urgen dan memaksa saya untuk datang ke Kota yang dulunya sempat mempunyai destinasi wisata” lendir” terbesar di Asia Tenggara tersebut. Kalau nggak salah namanya Dolmin atau apa gitu.

Seperti biasa, saya naik bus dari Nganjuk dan transit di Terminal Purabaya (Sidoarjo), atau yang lebih dikenal dengan nama Terminal Bungurasih. Buat sampeyan yang sering ke Surabaya naik bus, pasti sudah tidak asing lagi dengan terminal legend yang satu ini.

Berhubung hari masih sangat pagi (sekitar jam 5-an), dan mata saya masih terasa sangat berat untuk di ajak melek, maka saya memutuskan untuk mencari warung di sekitaran terminal Bungurasih untuk ngopi. Yah, sekedar ritual wajib di pagi hari untuk memulihkan wajah saya yang kusut supaya bisa kembali sumringah dan bahagia. Lagipula, saya masih punya waktu beberapa jam sebelum melaksanakan misi utama saya ke Surabaya.

Akhirnya saya memilih warung yang letaknya berada dekat hanya beberapa meter dari jalur pemberangkatan bus antar Kota dan Provinsi.

IMG_20160402_060411

Sambil tolah toleh, sembari menunggu pesanan kopi saya datang, saya memperhatikan seisi ruangan warung yang terlihat masih sepi belum ada pembeli kecuali saya. Lalu pandangan mata saya terhenti tepat menghadap dinding yang berada persis di depan tempat saya duduk. Disitu terlihat sangat jelas sebuah pesan yang bertuliskan..

IMG_20160402_060356

SAYA PINGSAN!!

images (3)

Oke, ini lebay!!

Mungkin buat sampeyan yang tinggal di kota-kota besar macam Jakarta atau Surabaya, hal semacam itu adalah hal yang wajar. Atau kalau istilahnya orang Jawa itu Wes Lumrah. Tapi buat saya yang sudah terbiasa hidup dan tinggal di kota kecil, dimana segala sesuatunya serba murah, serba terjangkau, atau malah gratis, melihat hal semacam itu rasanya kok nggak lumrah. Uang 3000 itu kalau di kota saya sudah bisa buat beli Nasi Pecel, lengkap dengan lauk pauk-nya, rempeyek dan teman-temannya. Lha ini ngecas HP aja kok sampai 3000. Kebacut, tenan!! HAHAHA. Emang di kota-kota besar itu harus se-komersil itu ya??

Padahal tadinya saya berniat mau numpang nge-cas HP, karena kebetulan batre-nya sudah sekarat gara-gara saya pakai buat nge-play musik di sepanjang perjalanan. Tapi kalau pemilik warungnya aja pelit kayak gitu, saya jadi males ah. Eh, atau jangan-jangan justru saya yang pelit?? 😀

 

*******

Gambar Ilustrasi:

bunkimliong.blogspot.com

Iklan

6 comments

    1. Ssstt.. saya kan cuma pura2 gak tau apa itu dolly. Biar dikira orang alim.. #eh 😀

      iya ya. Harusnya saya bawa pulang sekalian itu colokan. haha

      Suka

  1. Én is jövő hét végére tervezem a metszést. Isten legyen irgalmas szegény memfgyácskághoz, meg ahhoz a néhány bokorhoz, ami a kertemben van. Valahogy mindig elkap a hév, ha metszőolló kerül a kezembe. Szegény rózsabokrom még őszre sem heverte ki tavaly a tavaszi metszést. Bezzeg a nyírfám! Olyan gyorsan megnőtt, hogy most már nem érem fel az ollóval. Hálás is vagyok neki nyáron, amikor bebújhatok alá a napozóággyal.

    Suka

  2. The sooner UC puts this plot of land to productive use the better.   It’s time to retire People’s Park, pandering to this generation of &#h;s028omeles2” kids is a waste of everybody’s time and does nothing to advance the legacy – if there is any.Pave the Park!

    Suka

Jangan Lupa Meninggalkan Jejak ya, Bro??

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s