EMBUNG ESTUMULYO: Explore Nganjuk

Beberapa bulan terakhir ini, saya lagi seneng-senengnya dolan alias nglayap, atau piknik, atau mbolang, atau ngetrip kalau istilah anak-anak traveller (Ada yang mau nambahin istilahnya?). Lama-lama bosan juga kalau hanya ndekem aja dirumah. Sementara orang lain asik pacaran, saya cuma bisa tidur seharian kalau pas hari libur. HAHAHA!! Dari situ saya sadar, bahwa hidup memang butuh pacar keseimbangan. Hidup butuh piknik.

Akhirnya tercetus lah ide untuk mencari-cari informasi seputar tempat wisata di Kota Nganjuk, alias di kampung halaman saya sendiri. Dan bukan Nganjuk namanya kalau tidak kaya akan wisata alamnya. Setelah browsing sana sini, ternyata Nganjuk itu punya banyak destinasi wisata alam yang gak kalah memukaunya dibandingkan dengan wisata-wisata alam di daerah lain. Baik yang sudah terjamah oleh tangan-tangan manusia maupun yang belum terjamah sama sekali, alias masih perawan. Salah satunya seperti yang beberapa waktu lalu saya posting di blog ini, Wisata Air Terjun Sedudo.

Ketika mengetahui kalau Nganjuk ternyata punya banyak destinasi wisata alam, saya merasa tidak ada alasan lagi bagi saya untuk pergi jauh-jauh kalau hanya sekedar pengen ngetrip. Jadi alangkah afdol-nya jika saya lebih baik fokus dulu di kampung halaman sendiri, toh masih banyak yang belum saya kunjungi. Eman-eman tho kalau gak di explore.

Lalu saya teringat, dulu saya pernah membaca salah satu artikel di blognya Mas Ndop, si tukang vektor yang ngakunya ngganteng dan nge-hits itu, tentang tempat wisata alam di Nganjuk yang bernama Embung Estumulyo. Saya lihat tempatnya bagus banget. Pemandangannya natural, eksotis dan sangat mbois buat foto-foto. Saya aja sempat gak percaya kalau di Nganjuk punya tempat seperti itu. Saya jadi makin penasaran.

Untuk sekedar meyakinkan diri kalau Embung Estumulyo memang pantas untuk dikunjungi, saya menyempatkan diri terlebih dahulu untuk sercing-sercing fotonya di Instagram. Ketemu banyak fotonya, dan semuanya keren-keren!! Membuat saya semakin bernafsu untuk menyatroni Embung Estumulyo dalam waktu dekat.

estumulyo11

dzofar.com

Langsung saja saya hubungi teman saya, si Slamet,  lalu saya ajak janjian kesana hari minggu tanggal 7 februari kemarin. Tak lupa juga saya pameri foto-foto Embung Estumulyo yang saya dapat di Instagram, sekedar untuk memprovokasi dan mengompor-ngompori supaya dia mau saya ajak dolan. Ndilalah dia meng-ACC. Yes!! Walaupun kami berdua sempat eyel-eyelan alias berdebat karena si Slamet malah mengajak ke tempat lain. Alhasil, biar adil, akhirnya kami berdua memutuskan untuk pergi di dua tempat sekaligus dalam satu trip. Hahaha!! Kebetulan tempatnya searah.

Kami berdua berangkat sekitar jam 9 pagi. Kebetulan lokasinya gak begitu jauh sih. Kurang lebih sekitar 20 km dari pusat kota Nganjuk. Rutenya sama dengan rute ke Wisata Air Terjun Sedudo, satu arah, karena lokasinya memang sama-sama di lereng Gunung Wilis. Lebih tepatnya di Desa Bulurejo, Kecamatan Sawahan. Kalau dari arah alun-alun Nganjuk, lurus saja ke selatan melewati Jalan A. Yani sampai ada bundaran Adipura. Belok ke kanan, lalu lurus saja mengikuti jalan itu, nanti ada papan petunjuknya ke arah Air Terjun Sedudo. Ikutin saja petunjuk itu sampai ketemu Pasar Sawahan. Nah, dari situ naik lagi ke atas sampai ketemu tulisan ini di sebelah kanan jalan.

IMG_20160207_111015

Langsung saja sampeyan masuk melewati gapura itu, dan ikutin jalannya. Tenang, jalannya sudah beraspal kok. Kalau masih bingung, bisa tanya-tanya ke penduduk sekitar. Mereka menyebutnya Bendungan.

Tadinya saya kira masuknya itu gratis, tapi ternyata mbayar. Soalnya dari yang saya baca di postingannya Mas Ndop, dia sih bilangnya gratis. Karena sebetulnya Embung Estumulyo itu kan bukan tempat wisata ya, cuma semacam bendungan untuk menampung air hujan yang nantinya digunakan mengairi tanaman (irigasi). Tapi berhubung tempatnya yang katanya bagus dan mempunyai pemandangan yang wisata-eble, akhirnya banyak orang yang berkunjung ke sana dan menganggapnya tempat wisata. Nah, lalu muncul lah inisiatif dari warga sekitar untuk menarik tiket masuk dari para pengunjung yang datang. Jadi tiketnya bukan resmi dari Pemkab Nganjuk. Sepertinya sih begitu.

Tapi kemarin kami berhasil lolos tanpa bayar tiket masuk. Kok bisa?? Soalnya ya itu tadi, saya kira kan gratis. Jadi kami ya nyelonong saja. Hahaha!! Saya lihat memang ada beberapa orang anak muda (sepertinya penduduk sekitar), sedang duduk-duduk di sebuah gubuk di dekat jalan masuk ke Bendungan Estumulyo. Waktu kami lewat, mereka tiba-tiba berdiri dan seperti ngelihatin, tapi saya cuek saja. Dan saya juga sempat mendengar seperti ada suara orang manggil-manggil gitu, tapi lagi-lagi saya cuek karena saya pikir mereka sedang ngobrol. Ternyata begitu sampai di lokasi, si Slamet baru ngomong, kalau katanya orang-orang tadi memang memanggil-manggil kami untuk bayar tiket. Hahaha.. TELAT!!

Sesampainya di lokasi, ternyata masih sepi. Hanya ada beberapa gelintir orang yang sepertinya baru selesai foto-foto. Ketika kami datang, mereka pulang. Bagus!! Haha. Makin sepi makin sipp. Jadinya kalau mau foto-foto gak perlu rebutan spot dan hasilnya pun juga gak bakalan bocor.

Oiya, untuk bisa sampai ke TKP, butuh perjuangan sedikit ya bro, harus menaiki tangga dulu, karena lokasinya berada diatas. Gak terlalu tinggi sih, tapi lumayan bisa bikin sampeyan gegar otak kalau ngglundung.

IMG_20160207_095405

Begitu menginjakkan kaki di tangga terakhir paling atas, pandangan mata saya langsung disambut oleh panorama Embung Estumulyo yang..

“Lohhh.. Kok ternyata biasa-biasa saja ya.”

“Kok gak seperti yang saya lihat di Instagram??”

“Apa jangan-jangan saya salah tempat?? Kayaknya enggak deh, bro!! Lha tapi kok saya gak ngerasa eksaited gitu ya.”

“Wah, ini pasti ulah tukang Photosop!!”. Hahaha

IMG_20160207_095348

Atau jangan-jangan kamera Hp saya yang jelek?? Atau orangnya??
ORANGNYAAAA!!!!

Jadi yang katanya orang-orang bagus, mungkin karena view Embung Estumulyo yang terbelah pas di tengah-tengah dan diapit hutan pohon pinus di kanan-kirinya. Kalau dilihat dari depan, bentuknya menyerupai segitiga kerucut. Sekilas seperti hasil editan photosop ya? tapi itu asli kok. View-nya memang seperti itu. Terbelah pas di tengah-tengah.

IMG_20160207_100004

Sebenarnya sih pemandangannya gak jelek-jelek banget. Tapi entah kenapa saya merasa kok biasa-biasa saja ya. Apa karena pandangan mata saya di bayang-bayangi oleh masa lalu?? #Halah

Lalu saya coba untuk mencari tau, kenapa pemandangan di Embung Estumulyo terkesan biasa-biasa saja. Dan berikut analisa saya.

Pertama, karena mungkin waktu kami kesana kemarin, kebetulan langit sedang mendung, jadi pepohonan yang mengapit bendungan di tengah-tengahnya itu tidak tersinari matahari secara sempurna. Dan kalau seandainya pepohonan-pepohonan itu terkena srengenge atau sinar matahari, saya yakin keindahan Embung Estumulyo dengan sendirinya juga akan menampakkan wujud aslinya yang awesome. Jadi menurut saya, ini semua hanya masalah timing-nya saja yang gak pas. Seperti foto dibawah ini.

Screenshot_2016-02-11-06-17-38

Kedua, berhubung bendungan Embung Estumulyo ini sebetulnya memang bukan tempat wisata, jadi kondisinya ya masih seadanya seperti bendungan-bendungan pada umumnya. Belum benar-benar dikelola oleh Pemerintah Nganjuk untuk dijadikan sebagai tempat wisata. Masih belum ada fasilitas-fasilitas pendukungnya. Jadi ya wajar saja kalau kurang terawat. Ya mudah-mudahan sih, tiket masuk yang berasal dari inisiatif warga itu nantinya bisa dijadikan sebagai uang kas dan digunakan untuk kepentingan “mempercantik” bendungan Embung Estumulyo, supaya benar-benar sah menjadi tempat wisata. Gak perlu pemugaran besar-besaran, biar itu nanti jadi urusan Pemkab Nganjuk saja kalau seandainya suatu saat nanti Embung Estumulyo semakin banyak pengunjungnya. Soalnya saya perhatikan, Embung Estumulyo memang punya potensi yang bagus untuk dikembangkan sebagai objek wisata.

HALAH, WONG KOE MLEBU GAK MBAYAR AE KAKEHAN COCOT, TUT!!

Ya, ini kan cuma sekedar saran demi kemajuan wisata Nganjuk tho, bro!!

HALAH, PREETT!!

Ketiga, karena sekarang ini lagi musim hujan, jadi air di bendungan terlihat sangat keruh. Sehingga sangat mengurangi nilai keindahannya. Warna airnya gak jelas banget. Tadinya saya pikir airnya jernih seperti di Ranukumbolo. Lalu di tengah-tengah bendungan juga ada pelampung jaring buat nangkap ikan yang sangat mengganggu pandangan. Dipinggir-pinggirnya juga banyak rumput-rumput liar yang terlihat sangat semrawut. Belum lagi banyak sampah-sampah berupa bungkus snack dan bungkus rokok yang dibuang sembarangan, semakin membuat Embung Estumulyo kehilangan beberapa poin. Saya berharap sih, masalah kebersihan dan kesemrawutan yang ada di lokasi kalau bisa segera di atasi ya. Apa perlu minta bantuan Power Rangers??

IMG_estu

Aslinya semrawut, tapi tertolong oleh seorang model diatas

#Njiirr 😀

Mungkin itulah penyebab kenapa Embung Estumulyo tidak sebagus seperti yang terlihat di foto-foto. Setidaknya itu menurut saya sih. Gak tau deh kalau menurut sampeyan. Mungkin buat orang-orang yang rumahnya kota yang tiap hari cuma bisa lihat gedung dan jalanan yang macet, pemandangan alam seperti di Embung Estumulyo itu bisa jadi sangat menarik.

Jadi buat sampeyan yang barangkali tertarik ingin berkunjung ke Embung Estumulyo, saya sarankan lebih baik jangan di waktu musim hujan ya. Percuma!!  Pemandangannya kurang menarik. Takutnya malah nanti bakalan kecewa.

Oke, lanjut ya.

Sewaktu lagi seru-serunya menggelar sesi pemotretan alias foto-foto, hujan pun turun. Gak terlalu deras sih sebenarnya. Hanya grimis rintik-rintik. Untung di sana ada semacam gubuk untuk ngiyub alias berteduh. Lalu ngiyub lah kami berdua, sambil mengamati area sekitar bendungan dan ngobrol north n south, alias ngalor ngidul.

IMG_20160207_095428

Sebenarnya disana ada warungnya, cuma ya bukan warung yang “wah” sih. Warungnya bersahaja banget khas pedesaan. Atapnya aja dari jerami. Tapi berhubung kami berdua memang sedang malas ngewarung. Jadi ya cuma duduk duduk aja di gubuk.

IMG_20160207_095415

Warung anti Sianida

Sekitar 30 menitan, hujan pun akhirnya reda. Ketika kami mau melanjutkan sesi pemotretan, tiba-tiba serombongan anak-anak ABG datang menyerbu bendungan. Entah mereka semua berasal dari antah barantah mana. Banyak banget. Ada mungkin kalau 20-an orang lebih. Ya sudah, akhirnya kami berdua memilih untuk cabut saja dari lokasi dan pindah ke tempat lain. Mau foto-foto juga percuma, nanti gak bakalan kebagian spot. Hehehe.. Lagipula, kebetulan masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi. Yes, jadwal kami memang padat, bro!!

Lalu kami berdua melanjutkan perjalanan ke tempat lain yang sudah kami rencanakan. Tapi mungkin saya akan bikin postingan khususnya lain kali saja ya. Soalnya gak ada yang menarik sih, apalagi sewaktu kami sampai di lokasi, gak berapa lama, hujan turun dengan derasnya. Duh!!

Dan jika ada waktu, kemungkinan saya masih akan terus menjelajahi tempat-tempat keren yang ada di kota Nganjuk. Soalnya masih banyak banget yang belum saya kunjungi dan perlu di explore. Malu dong sama para leluhur Nganjuk, masa’ orang Nganjuk kok gak mengenal wisata alam di kotanya sendiri. Hahaha..

Sampai jumpa di postingan selanjutnya!!

Oiya lupa, teman saya ketinggalan

12733468_1029318913807458_1980743891437658707_n

Namanya Slamet, nama kerennya Slam

#Asekk 😀

Ilustrasi: http://www.kaskus.co.id

Iklan

8 comments

  1. Huahahaha.. Pas aku mrono khan gak musik rendheng, dadi banyune ijo, gak coklat.

    Yo musim udan ngene iki pancen enake liburan ndik cafe, ngopi, nyusu anget, karo kerjo. Haha. Utowo ndekem ae ndik omah. Ngobrol karo konco kawak.

    Suka

  2. Saya komentarin dulu paragraf pertamanya buat tambahan kosa kata…
    Nglayap ini Kamus Banyumas is MBABYAG… Hehehe…

    Di kampungku juga ada embung… sayang belum pernah nengokin kesana…. Horror kata orang2 kampung…. SERIUS!!! *bukannya saya takut. wong kebiasaan saya kan nganu tut…. pipis ditempat wisata…. mbok digigit… nganu… itunya yg digigit…. ngerti ra kowe? hahaha….

    ngemeng2 kalau ke Bali pasti aku lewat nganjuk mas broh… dan yg paling diingat dari nganjuk adalah………………….. ALUN-ALUN NYA….

    Jogeeedd maaaang !!! 🙂

    Suka

    1. Hi Joc,yeIt’s nice to meet you. It is nice to hear you enjoy your job as a CNA. I’m really excited to complete my program and get to work in the field myself.

      Suka

  3. Su,umtradmerpThanks! but if you grow up in the countryside, especially in the South, you can’t help but know about firearms. The comment attributed to Adm. Yamamoto about ‘a rifle behind every blade of grass’ is still true here. Daddy had us little ones out shooting tomato cans off fenceposts with a .22 rifle not so long after we learned to walk. :-DAnd a ‘virtue pistol’ in an English garden IS an amusing thought . . . although you do occasionally encounter gunpowder in the garden in Trollope . . . .

    Suka

  4. I can't believe this moment has finally come! I have been trying to stay out of trouble by uploading videos that I guarantee won't get me strikes, and I did my best to follow the Community Guidelines carefuly so I wo3uln&#d9;t violate them. And guess what? I'm SO grateful to be in for this treat! Thank you so much YouTube for allowing me to post videos that last for more than 15 minutes. You're really grateful to me!

    Suka

Jangan Lupa Meninggalkan Jejak ya, Bro??

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s