Tanggung Jawab Siapa??

“Mbak Mel, Retno itu teman kamu ya?”, tanya si Rama yang datang secara tiba-tiba.

“Iya, kenapa?”, jawab Imel santai sambil menyisir rambutnya yang masih basah sehabis mandi.

“Dia itu lho pacarnya Angga!!”, saut si Rama dengan penuh semangat dan raut muka yang serius.

Begitu kira-kira percakapan yang saya dengar dari dua keponakan saya yang masih SD itu, sore hari tadi di teras depan rumah saya. WHAT??? Iya, sampeyan nggak salah baca. Mereka berdua memang masih SD. Dan yang digosipin mereka berdua juga adalah teman mereka yang masih sama-sama berstatus anak SD. Yassalam!!

Saya hanya bisa tebengong-bengong mendengar percakapan dua bocah “ingusan” itu yang bahkan untuk makan aja terkadang masih disuapin. Mereka berdua adalah anak-anak dari sepupu saya. Dan kebetulan hampir setiap sore mereka selalu terlihat bercanda gurau di teras depan rumah saya.

Lalu terlintas di benak saya, “Apa sebenarnya yang sedang tejadi dengan generasi kita saat ini?”

Kok ya bisa-bisanya anak seumuran mereka sudah ngomongin soal pacar-pacaran?! Beda sekali dengan waktu jaman saya masih SD dulu. Paling yang diomongin ya nggak jauh-jauh dari mainan. Atau setidaknya ngomongin film-film kartun.

Saya paham, mungkin sebagian besar dari kita akan menganggap itu sebagai hal yang tidak perlu dikawatirkan secara berlebihan. Toh, palingan juga masih sebatas cinta monyet, atau apalah itu istilahnya.

Tapi apakah pernah terlintas di benak kita, jika di usia mereka yang masih SD saja sudah mengenal apa itu pacaran, bukan tidak mungkin ketika mereka beranjak remaja nanti (SMP misalnya), mereka malah sudah lihai mengamalkan apa itu “Sunnah Rasul” di malam jumat. Celaka lah bumi pertiwi!!

Kemudian saya teringat, beberapa hari yang lalu, saya sempat mendengar mereka (keponakan saya), dengan fasih-nya ngobrolin tentang sinetron remaja yang sedang booming akhir-akhir ini. Sebuah sinetron yang bercerita tentang kehidupan dan pergaulan anak muda, yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta selepas magrib. Saya yakin sampeyan pasti tau sinetron apa yang saya maksud. Yang jelas itu bukan sinetron untuk konsumsi tontonan anak SD.

Memang sih ya, tidak sepenuhnya kita bisa menyalahkan sinetron-sinetron pemburu Rating itu. Toh, tayangan apa yang di tonton anak-anak juga merupakan tanggung jawab orang tua. Apalagi sinetron-sinetron yang “kurang pantas” ditonton anak usia SD itu kebanyakan ditayangkan pada jam-jam dimana si anak seharusnya belajar. Harusnya orang tua lebih bisa mengawasi dong ya, kalau memang benar-benar peduli dengan perkembangan psikologis si anak.

Nah, celakanya, usut punya usut, ternyata orang tua kedua keponakan saya tadi itu sendiri juga merupakan salah seorang penggemar berat sinetron tersebut!!

image

 

 

Ilustrasi: aliefsyahru.blogspot.com

Iklan

8 comments

  1. Faktor pemicu yang terbesar adalah arus modernisasi dan globalisasi yang akhirnya membuat semua begitu mudah dikonsumsi, oleh anak-anak yang masih terhitung di bawah umur sekalipun.

    Tapi bener juga bro, seharusnya orang tua punya andil besar disini, ngawasin tayangan yang patut ditonton anak-anak. Kalo akhirnya si orangtua malah ikutan nonton acara itu “bareng dengan anaknya” dan mereka adalah penggemar berat, wah…. susah deh kalo udah begitu haha 😀

    Suka

    1. iya. memang itu lah beberapa faktor pemicunya. Susah memang jika harus melawan peradaban modern.. apalagi jika tidak dibarengi sikap kritis 😀

      Suka

Jangan Lupa Meninggalkan Jejak ya, Bro??

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s