Jangan Mudah Terprovokasi

media-press-graphic

Sumber

Daridulu yang namanya agama itu selalu menjadi isu yang sensitif. Makannya kenapa setiap kali ada kabar berita tentang seseorang yang berpindah agama, terlebih jika orang itu adalah publik figur, sudah bisa dipastikan bakalan heboh. Begitu kabar berita itu tersebar di sosial media, ribuan komentar pun berdatangan dari para netizen. Entah itu yang pro ataupun yang kontra. Lalu perang komentar pun berlangsung dengan sengit dan panas!!

Seperti beberapa waktu yang lalu, ketika kabar mengenai berpindahnya keyakinan salah satu aktor kenamaan Indonesia menyebar di sosial media. Atau baru-baru ini, ada salah satu artis cantik Indonesia yang juga dikabarkan baru saja berpindah agama. Kedua-keduanya mengalami nasib yang sama. Jadi bulan-bulanan di sosial media!!

Tapi kalau menurut saya, yang membuat berita itu menjadi heboh sebenarnya bukan karena si artis-nya yang berpindah keyakinan atau agama, tapi media lah yang lebay. Media lah yang sengaja menggembar-gemborkan kabar berita yang seharusnya menjadi urusan pribadi si artis, lalu dengan seenak dengkulnya dijadikan sebagai “komoditas” bacaan untuk khalayak umum.

Iya, saya tau, jika dengan “menjual” berita lah media bisa hidup. Tapi mbok ya jangan ngawur. Gak semua isu atau informasi itu bisa dengan seenaknya dijadikan “komoditas” untuk diketahui orang banyak. Apalagi ini menyangkut soal keyakinan atau agama seseorang. Isu yang teramat sangat sensitif untuk masyarakat kita yang dikenal plural dari segi agama.

Apa media-media itu gak sadar sudah berapa banyak kasus-kasus konflik yang bersumber dari persoalan agama??

Sekarang gak usah jauh-jauh deh, coba sampeyan perhatikan di kolom komentar setiap kali ada berita tentang isu seseorang yang berpindah agama, pasti akan kita temui komentar-komentar yang bernada provokatif. Saya yakin, siapapun yang baca pasti ikutan kepancing emosi. Namanya juga di sosial media, orang bisa bebas berkomentar apa saja tho?? Walaupun saya juga sangat yakin, beberapa diantara para “komentator” itu tujuannya hanya untuk mencari sensasi saja. Supaya orang-orang yang baca terpancing emosinya.

Komentar-komentar yang bernada provokatif itu kelihatannya memang sepele. Tapi justru hal itu lah yang bisa membuat “kadar” toleransi beragama di negara kita menjadi rapuh. Nah, kalau isu-isu semacam itu terus menerus diberitakan oleh media, itu sama saja dengan menanam benih-benih konflik.

Semua orang memang butuh informasi, apalagi di zaman yang serba on-line seperti sekarang ini, informasi bisa dengan begitu cepatnya diakses oleh setiap orang melalui sosial media maupun portal-portal berita on-line dengan bantuan Smartphone. Peristiwa ataupun fenomena apapun yang terjadi di dunia ini, bisa dengan cepat menyebar melalui internet. Itu lah sebabnya dibutuhkan kehati-hatian didalam menyajikan sebuah informasi atau berita, supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman yang bisa berakibat fatal.

Saya paham, mungkin dengan menyajikan betita-berita sensasional semacam itu, apalagi jika dibumbui dengan tagline yang bernada provokatif, akan sangat ampuh untuk menarik perhatian para pembaca. Dan tentu saja itu merupakan trik marketing yang sangat efektif. Itu lah konsekuensinya jika pengelola portal berita on-line terlalu profit oriented.

Nah, jika sudah demikian, maka, mau tak mau, kita sebagai pembaca juga harus bisa bersikap kritis dalam menyerap informasi, supaya tidak mudah terpancing oleh isu-isu atau informasi yang dikemas secara provokatif dan terkesan mengadu domba.

Iklan

2 comments

Jangan Lupa Meninggalkan Jejak ya, Bro??

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s