Dari Trans Jogja Hingga Nasi Gudeg Jogja

“Mengundang sdr untuk hadir tes interview pada hari rabu, 9 september 2015 pukul 09.00 wib di Bank ****** Jl. Gejayan CT X Depok Sleman Yogyakarta”

Begitu isi SMS yang saya terima tiga hari yang lalu. Sms undangan interview itu saya terima sore hari sekitar jam 5 dengan ekspresi yang nggak jelas. Antara seneng dan bingung!! Seneng karena akhirnya (untuk yang kesekian kalinya) saya mendapatkan kesempatan lagi untuk melepaskan diri dari jeratan pengangguran setelah hampir 6 bulan resign dari pekerjaan saya sebelumnya. Bingung karena pemberitahuan itu jelas sangat mendadak semendadak-dadaknya!!

Sms undangan itu dikirim tanggal 8 september (sore hari pula), sementara jadwal interview tanggal 9 alias besoknya. Artinya, saya sudah harus berangkat ke Jogja hari itu juga. Padahal, perjalanan Nganjuk-Jogja kalau naik bis itu memakan waktu kurang lebih 7 jam. Kalau normal kira-kira 6 jam. Tapi kalau sopirnya kayak orang kesurupan, hanya memakan waktu 5 jam.

Dari pengalaman yang sudah-sudah, biasanya saya kalau dapat undangan ikut tes kerjaan seperti itu, apalagi di luar kota, saya selalu dikasih selang waktu setidaknya 1 hari. Mungkin maksudnya supaya saya bisa mempersiapkan diri terlebih dahulu. Tapi undangan yang kemarin itu bener-bener bikin saya pontang-panting nggak karuan. Masalahnya, ini bukan luar kota lagi, tapi sudah lintas provinsi. Jawa Timur vs Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)!!

Mau nggak mau, terpaksa saya harus berangkat ke Jogja malam itu juga. Tanpa persiapan apapun. Belum lagi, saya sama sekali nggak tau menahu soal alamat kantor bank yang mengundang saya untuk interview. Maklum, saya orangnya memang kurang piknik. Saya ke Jogja cuma 2 kali. Yang pertama waktu saya masih SMP dulu dan yang terakhir kira-kira dua tahun yang lalu waktu ikut CPNS. Jadi, pengetahuan saya tentang Jogja masih sangat minim dan masih belum bisa diandalkan.

Untung lah, saya hidup di jaman yang sudah modern. Berbekal sedikit informasi dari hasil browsing-browsing di Internet, ditambah dengan sedikit sentuhan jiwa Bonek, tanpa ragu saya akhirnya nekat berangkat ke Jogja malam itu juga sekitar jam 1 (terpaksa nggak tidur). Dengan harapan, subuh saya sudah sampai di Jogja. Yah, setidaknya saya masih punya waktu untuk tanya-tanya orang disana soal alamat kantor bank yang saya tuju, plus transportasi yang bisa saya gunakan. Sekedar untuk memastikan informasi yang saya dapatkan di internet memang benar-benar bisa dipercaya.

Tapi memang dasar sial!! Bis yang saya tumpangi sama sekali nggak bisa di andalkan. Padahal bis patas loh!! Tapi saya ngerasa seperti naik bis pariwisata. Walhasil, prediksi saya ternyata melesat jauh. Saya tiba di Jogja jam setengah 8 pagi. Sungguh Bedebah!!

Karena sudah kesiangan, setibanya di Terminal Giwangan, saya langsung buru-buru mandi dan ganti baju serapi dan sewangi mungkin. Soalnya dari rumah saya cuma pakai kaos sama celana pendek saja.

Setelah itu, saya tanya-tanya sebentar ke petugas terminal soal angkutan yang bisa saya gunakan untuk menuju alamat kantor bank sebagaimana yang tertera di SMS. Katanya, hanya ada 3 angkutan yang bisa saya gunakan, yaitu taksi, bis kota, dan ojek.

Kalau naik taksi, saya takutnya nanti malah tekor jika melihat isi dompet saya yang sangat tidak pro-taksi. Lalu kalau naik bis kota, kata petugas yang ada di terminal terlalu lama, bisa sampai 1 jam lebih tiba di tempat tujuan. Sungguh bukan pilihan yang sangat bijak dikala situasi sudah terlampau darurat.

Berhubung waktunya sudah sangat mepet, akhirnya saya memutuskan untuk naik ojek saja. Tadinya tukang ojeknya minta 50 ribu. Edyan!!! Saya tawar aja setengahnya. Setelah melalui perdebatan yang cukup sengit, akhirnya si tukang ojek pun menyerah, dan saya kena 25 ribu (masih mahal nggak sih?). Tapi mau gimana lagi, saya nggak tau harus naik apa. Saya masih terlalu newbie soal transportasi di Jogja.

Tidak sampai setengah jam, berkat kelihaian si tukang ojek menembus keramaian jalanan Jogja pagi itu, saya sudah sampai di tempat tujuan. Dan Alhamdulillah, masih ada waktu setengah jam dari jadwal yang ditentukan. Sempurna!!!

Kalau untuk proses interview-nya sih biasa-biasa saja ya. Nggak jauh beda dengan interview-interview yang sering saya ikuti. Jadi saya kira nggak perlu saya ceritakan secara detail disini. Justru yang nggak biasa itu adalah makhluk-makhluk penghuni kantornya. Melihat mbak-mbak cantik berseliweran mengenakan baju rapi namun sedikit sensual itu, membuat naluri kelaki-lakian saya bergejolak dengan hebatnya. Serasa ingin menghadiahinya seperangkat alat sholat saat itu juga. Hahaha!! Yah, mengkhayal sedikit kan nggak apa-apa tho. Biar lebih semangat lagi nyari duit.

Jam 11, saya sudah selesai interview, dan bersiap-siap untuk balik lagi ke terminal Giwangan sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

Untuk menuju ke terminal Giwangan, ternyata transportnya cukup mudah. Hanya cukup naik Trans Jogja. Semacam busway kalau di Jakarta. Tapi ukurannya lebih kecil. Ongkosnya juga murah. Cukup 3600 rupiah saja sekali bayar sudah bisa oper 2 kali. Yang membedakan antara Trans Jakarta (busway) dengan Trans Jogja adalah kalau Trans Jogja nggak ada jalur khususnya. Jalurnya jalan umum biasa, campur dengan kendaraan-kendaraan lainnya. Tapi sistem pengoperasiannya hampir sama. Ada banyak halte bertebaran di sepanjang jalan yang di fungsikan untuk tempat beli karcis dan transit penumpang.

p1060134

Sumber

Tadinya saya bingung juga. Soalnya nggak pernah naik Trans Jogja sebelumnya. Saya cuma lingak-linguk saja sambil nyari orang yang bisa ditanyain. Dan untung lah ada bapak-bapak tukang becak yang baik hati yang ngasih tau caranya. Waktu itu saya lihat beliau lagi nyantai sambil duduk-duduk di atas becaknya menunggu penumpang. Langsung saja saya samperin dan mulai tanya-tanya dengan agak sedikit malu. Lha gimana nggak malu?? Penampilan sudah kayak eksmud begini, masa’ naik Trans Jogja saja kok nggak ngerti caranya. Hahaha!!

Ternyata memang benar ya, orang Jogja itu ramah-ramah. Si bapak-bapak tukang becak itu menjelaskan kepada saya dengan sangat ramah. Matur nuwun lho pak!! Mugi-mugi panjenengan diparingi rejeki ingkang katah.. Amienn.

Setelah mendapatkan penjelasan yang cukup gamblang, saya langsung menuju halte terdekat yang nggak jauh dari tempat mangkal si bapak-bapak tukang becak itu. Waktu itu, kebetulan haltenya sepi banget. Hanya ada 2 orang (termasuk saya) yang lagi nunggu kedatangan Trans Jogja di halte itu.

2783959684_e362bb195f

Sumber

Trans Jogja ini sangat rekomended banget buat yang pengen jalan-jalan menjelajahi kota Jogja tapi masih bingung soal transportasinya. Gampang, tinggal naik Trans Jogja sudah bisa kemana-mana. Murah pula!! Nyaman pula!! Nggak ada ceritanya berdesak-desakan didalam bis.

3

Sumber

Tadinya saya pikir, jaraknya cukup jauh dan perjalanannya memakan waktu yang cukup lama. Ternyata saya salah. Nggak sampai setengah jam, saya sudah sampai di terminal Giwangan. Oalah, tau begitu tadi waktu berangkat saya naik Trans Jogja aja dong ya. Lha saya kira, Trans Jogja itu sama kayak bis kota yang katanya lambat. Ah, sudah lah nggak apa-apa. Buat pengalaman.

Dan tiba-tiba saja saya jadi teringat kalau semalaman saya belum makan sama sekali. Trus tadi sebelum berangkat interview juga belum sempat sarapan. Duh, pantesan kegantengan saya berkurang 10 persen. Halah!! 😛

Dari rumah, kebetulan saya sudah punya cita-cita pengen nyicipin nasi gudeg khas Jogja. Jadi saya langsung saja menuju stan-stan penjual makanan yang ada di dalam terminal Giwangan. Setelah nemu tempat yang pas, saya langsung memesan nasi gudeg plus es teh.

gudeg-yu-narni_20150917_192214

Sumber

Saking lapernya sampai saya lupa memfoto, jadi ya terpaksa nyomot foto di google 😀

Setelah kenyang menyantap nasi gudeg jogja, saya langsung kabur. Eh, nggak deng!! (hehehe). Begitu saya mau bayar, dan dikasih tau totalnya habis berapa, saya kaget bukan main. Perut saya langsung mules seketika denger si ibu penjualnya bilang kalau semuanya habis 23 ribu. Edyan!! Cuma nasi gudeg sama Es Teh doang habis segitu. Saya merasa iba dengan isi dompet saya.

Tapi buru-buru saya langsung menyadari kalau saya ternyata sedang berada di terminal, dimana harga makanan dan segala macem memang kadang terkesan nggak manusiawi. Pengalaman saya kalau beli-beli sesuatu di terminal memang begitu. Mahal!! Ya akhirnya saya hanya bisa maklum. Soalnya saya kan hidup di kota kecil, dimana harga makanan sangat murah. Jadi kalau dikasih harga segitu ya langsung shock!! 😀

Berhubung uang saku saya sudah sangat menipis. Saya memutuskan untuk langsung pulang saja ke Nganjuk. Sebenernya sayang banget di Jogja kalau nggak jalan-jalan dulu. Tapi mau gimana lagi, isi dompet saya nggak support. Yah, mungkin lain kali saja. Kalau Gusti Alloh berbaik hati memberi saya kesempatan untuk berkunjung ke Jogja lagi. Semoga!!

Iklan

Jangan Lupa Meninggalkan Jejak ya, Bro??

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s