Sepeda Tua Kenangan Masa Kecil

Di rumah saya ada sebuah ruangan yang khusus digunakan untuk menyimpan barang-barang yang sudah nggak terpakai lagi, alias barang rongsokan. Ya semacam gudang gitu lah. Dan biasanya kalau ruangan itu sudah agak penuh dengan barang-barang yang nggak terpakai, maka keluarga saya pun dengan penuh semangat akan mulai memilah-milah barang-barang yang sekiranya masih bernilai ekonomis,  lalu menjualnya ke tukang rongsokan. Biasanya yang paling rajin melakukan hal itu adalah Emak saya.

Salah satu barang rongsokan (kalau boleh dibilang begitu) yang sampai detik ini masih aman dari kesewenang-wenangan Emak saya adalah sepeda onthel (gowes) merk Phoenix warna biru. Sepeda tertua yang pernah dimiliki keluarga saya yang usianya mungkin hampir sepantaran dengan usia saya.

IMG_20170612_133716

Saya sendiri sampai sekarang nggak tau pasti kenapa sepeda itu bisa selamat dari tangan dingin Emak saya. Padahal kalau dipikir-pikir, jika dibandingkan dengan barang-barang rongsokan lain yang ada diruangan, saya yakin si sepeda phoenix itu masih bernilai jual lumayan tinggi.

Pikiran saya lalu memaksa ingatan saya menerawang jauh kembali mengenang masa kecil saya dulu. Masa ketika sepeda phoenix warna biru itu sedang berada pada puncak masa kejayaannya. Masa Keemasan! Masih segar bugar, kuat, dan tangkas. Kira-kira di awal tahun 90-an. Tahun dimana saya masih duduk dibangku Taman Kanak Kanak. Entah kapan tepatnya Bapak saya dulu membeli sepeda itu. Yang saya ingat, sepeda itu sudah ada ketika saya umur 5 tahun.

Saya masih ingat. Sepeda itu lah yang setiap sore selalu dipakai bapak untuk mengajak saya jalan-jalan, melihat keramaian kota, mampir di alun-alun, lalu berakhir di stasiun hanya untuk melihat kereta api melintas. Saya juga masih ingat, dengan sepeda itu pula lah Bapak selalu mengajak saya menonton Wayang Kulit dan Kuda Lumping yang waktu itu menjadi kegemaran saya. Dan yang terakhir, sepeda itu pula lah yang setiap hari selalu setia mengantarkan Bapak saya menjemput rejeki untuk istri dan anak-anaknya.

Dengan kata lain, sepeda phoenix itu lah satu-satunya alat transportasi andalan keluarga saya waktu itu. Karena saat itu, sepeda motor masih menjadi barang yang mewah bagi kami sekeluarga. Hal itu mungkin bisa dimaklumi, mengingat di tahun-tahun segitu, di kota tempat tinggal saya dulu masih belum banyak orang yang mampu membeli sepeda motor. Mungkin hanya orang-orang tertentu yang sanggup membelinya. Alhasil, jalanan di tempat tinggal saya ketika itu lebih banyak didominasi oleh pengendara sepeda onthel.

Bapak saya masih setia menggunakan sepeda phoenix itu untuk berangkat dan pulang kerja sampai kira-kira tahun 2007. Kenapa?? Ya karena disaat itu lah untuk yang pertama kalinya keluarga saya membeli sepeda motor. Lalu sudah bisa di tebak, si phoenix pun akhirnya terpaksa harus di pensiunkan.

Kalau melihat masa bakti dan pengabdiannya dari kurun waktu yang hampir 20 tahun, terhitung dari tahun 90-an awal sampai tahun 2007 (berarti kurang lebih 17 tahun), maka bisa dibilang, sepeda phoenix yang sekarang sudah menjadi barang “rongsokan” dan terlihat usang itu telah berjasa banyak bagi kehidupan keluarga saya. Jadi kalau boleh saya menduga, barangkali karena alasan itu lah, keluarga saya sampai detik ini tidak pernah berusaha “menyingkirkan” sepeda itu dan menjualnya ke tukang rongsokan sebagaimana nasib barang-barang rongsokan lain yang ada di rumah saya.

Iklan

Mencicipi Sate Tahu

Saya baru tau kalau ternyata ada Sate yang terbuat dari Tahu, atau berbahan dasar Tahu. Bukan daging seperti umumnya sate yang semua orang kenal. Dan rasanya memang benar-benar mirip banget dengan sate daging asli. Saya sendiri juga heran. Saya mikirnya apa mungkin karena bumbu sambal kacangnya kali ya?! Entah lah. Yang jelas sudah dua hari ini, setiap menjelang magrib, ada penjual sate tahu yang lewat depan rumah saya.

Awalnya saya biasa saja lihat anak-anak kecil sampai ibu-ibu tetangga kanan kiri saya pada ngantri beli sate tahu. Berhubung yang jual pakai sistem langsung bakar di tempat, aroma-nya jadi menyebar kemana-mana. Saya yang lagi duduk-duduk santai di teras rumah, akhirnya harus menyerah dengan aroma yang begitu menggoda itu. Lantas saya pun ikut-ikutan beli. Shittt!!!

IMG_20170517_175535

Harga satu tusuknya 500 rupiah (limangatus repes). Harga yang cukup wajar untuk jajanan yang menurut saya hanya cocok dijadikan sebagai cemilan santai. Soal rasa ya seperti yang sudah saya bilang di awal postingan ini. Rasanya benar-benar mirip dengan sate daging asli. Yang membedakan hanya tekstur-nya saja. Empuk dan Maknyus!

Lalu saya teringat dengan berita yang saya baca beberapa bulan yang lalu ketika Ibu Iriana, Istri Presiden Jokowi, dalam sebuah acara di kediamannya (Solo), menjamu tamu-tamunya yang notabene adalah para pejabat-pejabat Negara. Dan tau kah sampeyan apa salah satu menu spesial yang dihidangkan disana?? Sate Kere. Yaitu Sate yang terbuat dari ampas Tahu yang difermentasikan menjadi Tempe. Yang juga merupakan makanan favorit putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming.

Saya nggak tau, apakah Sate Tahu yang saya makan itu sejenis Sate Kere seperti yang dihidangkan Ibu Iriana atau bukan. Yang saya tau, dua-duanya sama-sama terbuat dari bahan dasar Tahu. Dan rasanya enak!!

Ada-ada Saja Cara Orang Nyari Duit

Bagi sampeyan yang sering bepergian naik bus, pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya pedagang asongan. Iya kan?? Hilir mudik mereka dalam menjajakan dagangannya seakan sudah menjadi pemandangan yang lazim bagi para penumpang bus. Apalagi banyak celetukan-celetukan lucu yang terkadang keluar dari mulut mereka ketika menjajakan dagangannya, hingga sering kali membuat orang yang mendengarkannya tersenyum geli.

Saya sendiri beberapa kali sempat membeli dagangan mereka kalau pas kebetulan ada yang jualan cemilan, atau jajanan yang jarang saya temui di rumah. Yah, sekedar untuk menemani perjalanan aja. Walaupun sebenarnya tidak hanya selalu jajanan yang dijajakan oleh para pedagang asongan.

Seperti beberapa hari yang lalu, waktu saya ke Surabaya, ketika saya naik bus kota (DAMRI) di terminal Bungurasih, saya menjumpai ada seorang pedagang asongan yang menjajakan dagangan yang menurut saya sungguh nyeleneh dan gak umum. Perut saya sampai mules karena nahan ketawa.

P_20170502_072818

Iya, KANCING CELANA!! Coba bayangkan. Apa nggak ASUUU!!! Hahahaha. Saya aja sampai gak habis pikir. Kok ya ada yang jual begituan. Apa gak ada lagi yang lebih pantas untuk di jual ya?? Bukannya bermaksud meremehkan cara orang nyari duit. Tapi rasanya kok kelewat aneh. Mbok ya jangan gitu-gitu banget lah. Hahaha

Tidak hanya sekali dua kali saya menjumpai pedagang asongan yang menjual dagangan yang nyleneh-nyleneh semacam itu. Tapi ya namanya orang siapa yang tahu. Barangkali memang ada yang butuh. Logikanya kalau memang nggak ada yang butuh, mana mungkin di jual. Ya kan?? positive thinking saja lah.

Tapi kok tetap aja ya, sampai saya nulis postingan ini, kalau ingat itu saya kok masih aja ngakak. Hahaha. Asu!!!

Kembali Menyapa Buku

Sudah lama sekali rasanya saya tidak bersentuhan dan bercengkrama dengan buku. Kalau tidak salah ingat, terakhir kali saya membeli buku (dan tentu saja membacanya) kira-kira tahun 2011. Setelah itu, saya nyaris tak pernah lagi menyambangi toko buku. Entah kenapa, setelah berhasil hengkang dari kampus di tahun 2012, ketertarikan dan minat saya terhadap buku tiba-tiba lenyap begitu saja. Saya tidak pernah lagi merasakan nikmatnya membaca dan “melahap” buku seperti saat saya masih disibukkan oleh tugas-tugas kampus yang bikin kepala serasa mau meledak itu.

(lebih…)